
Tasyakkuran Perubahan Bentuk STISNU Aceh menjadi ISNU Aceh: Menguatkan Fondasi, Menata Arah, Mewujudkan Kampus Masa Depan
Aceh Besar, 20 Agustus 2026 — Institut Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh menggelar acara Maulid dan Tasyakuran atas perubahan bentuk Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh menjadi Institut Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh, Kamis (20/8/2026), bertempat di Aula Rumoh Meudrah Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar ISNU Aceh untuk mensyukuri sebuah tahapan baru dalam perjalanan institusi sekaligus meneguhkan komitmen untuk membangun perguruan tinggi Islam yang semakin adaptif, unggul, dan memiliki kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
Mengusung tema “Menguatkan Fondasi, Menata Arah, Mewujudkan Kampus Masa Depan”, kegiatan ini tidak hanya diisi dengan ungkapan syukur atas perubahan bentuk kelembagaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antara sivitas akademika ISNU Aceh dengan masyarakat di lingkungan kampus.
Hal tersebut ditandai dengan turut hadirnya para kepala desa dari empat kecamatan (Kec. Suka Makmur, Kec. Indrapuri, Kec. Montasik dan Kec. Kuta Malaka) yang berada dalam lingkungan kampus ISNU Aceh. Kehadiran para pemimpin gampong tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan ISNU Aceh tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
Rektor: Perubahan Bentuk Harus Diikuti Perubahan Dampak
Rektor ISNU Aceh, Dr. Tgk. Muhammad Yasir, M.A., menegaskan bahwa perubahan bentuk dari sekolah tinggi menjadi institut bukan sekadar perubahan nomenklatur kelembagaan. Menurutnya, perubahan tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas akademik sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
“Perubahan dari STISNU menjadi ISNU Aceh bukan hanya perubahan nama dan bentuk kelembagaan. Ini adalah amanah untuk meningkatkan kualitas, memperluas pengabdian, dan menghadirkan kampus yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Dr. Tgk. Muhammad Yasir, M.A.
Ia menambahkan, kampus masa depan harus mampu membangun hubungan yang kuat dengan lingkungan sosialnya. Perguruan tinggi, kata dia, tidak boleh menjadi menara gading yang hanya berbicara tentang teori dan akademik, tetapi harus hadir menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Kita ingin ISNU Aceh tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, kemajuan kampus harus berjalan seiring dengan kemajuan masyarakat di sekitarnya. Ilmu yang kita bangun di kampus harus menemukan jalannya untuk kembali memberi manfaat kepada umat,” lanjutnya.
Menurut Rektor, keterlibatan para kepala desa dalam kegiatan tersebut merupakan simbol penting bahwa ISNU Aceh membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan masyarakat. Desa, pemerintah gampong, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan pembangunan yang saling menguatkan.
LP2M: Kampus Harus Hadir di Tengah Persoalan Masyarakat
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) ISNU Aceh, Tgk. Syibram Malasi, S.Sy.,M.E, menilai momentum perubahan bentuk tersebut harus menjadi titik tolak bagi penguatan fungsi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga harus mampu menghasilkan pengetahuan yang relevan dan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kegiatan formal yang dilaksanakan oleh kampus. Pengabdian adalah cara perguruan tinggi memastikan bahwa ilmu pengetahuan memiliki manfaat dan hadir di tengah kehidupan masyarakat,” kata Tgk. Syibram
Ia menyebut kehadiran para kepala desa dari empat kecamatan dalam acara tersebut sebagai peluang strategis untuk membangun kemitraan yang lebih berkelanjutan antara ISNU Aceh dengan masyarakat.
“Kami memandang desa bukan hanya sebagai objek pengabdian, tetapi sebagai mitra. Masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kearifan lokal yang juga penting bagi pengembangan ilmu. Karena itu, ke depan kami ingin membangun pola kolaborasi yang memungkinkan kampus dan masyarakat saling belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari solusi,” jelasnya.
Tgk. Syibram Malasi menegaskan, LP2M akan terus mendorong agar kegiatan penelitian dan pengabdian di ISNU Aceh memiliki orientasi pada kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan, hukum keluarga, sosial keagamaan, pemberdayaan ekonomi, literasi, serta penguatan kapasitas masyarakat desa.
Dari Perubahan Bentuk Menuju Perubahan Peran
Perubahan bentuk STISNU Aceh menjadi ISNU Aceh menjadi babak baru dalam perjalanan kelembagaan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Aceh. Dengan bentuk institut, ISNU Aceh memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan bidang keilmuan, memperkuat integrasi antara ilmu keislaman dan ilmu sosial, serta memperluas kontribusi akademiknya.
Namun demikian, perubahan tersebut sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Kampus yang semakin besar tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya program studi, jumlah mahasiswa, maupun fasilitas akademik. Ukuran keberhasilan perguruan tinggi juga terletak pada sejauh mana keberadaannya mampu mencerahkan masyarakat, menyelesaikan persoalan, membuka kesempatan, dan menghadirkan kemaslahatan.
Dalam konteks tersebut, momentum Maulid dan tasyakuran perubahan bentuk ISNU Aceh memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya perayaan atas sebuah pencapaian administratif, tetapi menjadi ikrar bersama untuk memulai perjalanan baru dengan fondasi yang lebih kuat dan orientasi yang lebih luas.
ISNU Aceh diharapkan dapat tumbuh sebagai kampus yang berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, namun pada saat yang sama terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, perubahan sosial, dan kebutuhan masyarakat.
Kehadiran para kepala desa dari empat kecamatan dalam kegiatan tersebut menjadi pesan penting bahwa masa depan ISNU Aceh tidak hanya dibangun di dalam ruang-ruang kelas dan gedung akademik. Masa depan itu juga dibangun melalui silaturahmi, kolaborasi, penelitian, pengabdian, dan keberpihakan kepada kebutuhan masyarakat.
Dengan semangat “Menguatkan Fondasi, Menata Arah, Mewujudkan Kampus Masa Depan”, ISNU Aceh menatap babak baru dengan keyakinan bahwa kampus yang baik bukan hanya kampus yang menghasilkan orang-orang berilmu, tetapi juga kampus yang membuat ilmu itu hidup, bekerja, dan memberi manfaat bagi kehidupan.
Humas ISNU Aceh



