
RAPAT KERJA INSTITUT NAHDLATUL ULAMA ACEH 2026
Konsolidasi dan Transformasi Menuju Kampus Unggul, Mandiri, dan Berdaya Saing Global Berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaah
Banda Aceh, 6 September 2026** — Institut Nahdlatul Ulama Aceh (ISNU Aceh) menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) Tahunan Tahun 2026 sebagai bagian dari agenda strategis dalam memperkuat konsolidasi kelembagaan sekaligus merumuskan arah transformasi institut menuju perguruan tinggi yang unggul, mandiri, dan berdaya saing global dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
Rapat kerja yang berlangsung di Banda Aceh pada Ahad, 6 September 2026, tersebut mengusung tema “Konsolidasi dan Transformasi Institut Nahdlatul Ulama Aceh Menuju Kampus Unggul, Mandiri dan Berdaya Saing Global Berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaah.”
Kegiatan tahunan ini dibuka secara resmi oleh Pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Abu. H. Faisal Ali, M.Pd., yang sekaligus merupakan Pembina ISNU Aceh.
Dalam arahannya, Abu. H. Faisal Ali menekankan pentingnya menjadikan momentum Raker sebagai ruang konsolidasi bersama untuk memperkuat fondasi kelembagaan ISNU Aceh. Transformasi perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan perubahan struktur dan program akademik, tetapi juga menyangkut penguatan kualitas sumber daya manusia, budaya akademik, tata kelola, serta karakter keislaman yang menjadi identitas institut.
Raker ISNU Aceh Tahun 2026 turut dihadiri oleh seluruh Civitas Akademika ISNU Aceh, mulai dari unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan hingga unsur terkait lainnya. Untuk memperkaya perspektif dan memberikan penguatan terhadap agenda peningkatan mutu perguruan tinggi, ISNU Aceh juga menghadirkan pemateri eksternal, yaitu Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Ar-Raniry Aceh, Dr. Abdul Jalil Salam, M.Ag.
Kehadiran pemateri eksternal tersebut menjadi bagian penting dari komitmen ISNU Aceh untuk membangun budaya mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang semakin profesional. Pengalaman dan perspektif dari lingkungan perguruan tinggi Islam negeri diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif bagi ISNU Aceh dalam mempersiapkan berbagai instrumen pengembangan mutu, akreditasi, tata kelola akademik, serta penguatan sistem penjaminan mutu internal.
#Rektor: Transformasi Harus Menghasilkan Perubahan Nyata
Rektor ISNU Aceh, Dr. Tgk. Muhammad Yasir, M.A., mengatakan bahwa Raker Tahun 2026 memiliki arti strategis karena dilaksanakan dalam fase penting perjalanan ISNU Aceh sebagai institusi yang sedang melakukan konsolidasi dan penguatan kelembagaan.
“Rapat kerja ini bukan sekadar agenda tahunan untuk menyusun program kerja, tetapi menjadi momentum untuk menyatukan visi, memperkuat konsolidasi dan memastikan bahwa setiap program yang kita rumuskan benar-benar mengarah pada transformasi ISNU Aceh menjadi perguruan tinggi yang unggul, mandiri dan memiliki daya saing global,” ujar Rektor.
Menurutnya, transformasi ISNU Aceh harus berjalan seimbang antara penguatan kualitas akademik, tata kelola kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia, inovasi, serta penguatan identitas keislaman.
“ISNU Aceh harus mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah. Kita ingin membangun kampus yang modern dalam tata kelola dan akademiknya, tetapi tetap kuat secara nilai, tradisi keilmuan dan karakter keislamannya,” tambah Dr. Tgk. Muhammad Yasir.
Ia menegaskan bahwa cita-cita menjadi kampus unggul tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pimpinan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur sivitas akademika.
“Transformasi ini harus menjadi gerakan bersama. Setiap dosen, tenaga kependidikan dan seluruh unsur sivitas akademika memiliki peran dalam menentukan masa depan ISNU Aceh,” tegasnya.
#Humas: Dari Konsolidasi Menuju Identitas Kampus yang Berdaya Saing
Sementara itu, Kepala Humas, Publikasi dan Kerjasama ISNU Aceh, Tgk. Faisal Kuba, M.H., menilai bahwa Raker 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas dan positioning ISNU Aceh di tengah kompetisi perguruan tinggi yang semakin dinamis.
Menurutnya, perubahan status dan perkembangan kelembagaan ISNU Aceh harus diikuti dengan perubahan cara pandang dalam membangun komunikasi publik, kemitraan, publikasi dan jejaring kelembagaan.
“ISNU Aceh tidak cukup hanya dikenal sebagai perguruan tinggi yang lahir dari tradisi pendidikan Islam dan Nahdlatul Ulama. Kita harus membangun positioning sebagai kampus yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat, tata kelola yang profesional, terbuka terhadap kolaborasi dan mampu berbicara dalam ruang akademik nasional bahkan global,” ungkap Tgk. Faisal Kuba.
Ia menambahkan bahwa Humas, Publikasi dan Kerjasama memiliki posisi strategis dalam mengkomunikasikan berbagai capaian dan agenda transformasi ISNU Aceh kepada publik.
“Branding perguruan tinggi hari ini bukan hanya tentang bagaimana kampus terlihat, tetapi bagaimana publik melihat kualitas, integritas dan kontribusi sebuah institusi. Karena itu, komunikasi publik ISNU Aceh harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu internal. Apa yang kita komunikasikan kepada publik harus berangkat dari kerja nyata dan capaian yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa penguatan kerjasama menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun daya saing institut.
“ISNU Aceh harus membuka diri terhadap kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, pesantren maupun mitra internasional. Kampus yang kuat bukan kampus yang berjalan sendiri, tetapi kampus yang mampu membangun ekosistem dan jejaring,” katanya.
#Meneguhkan Aswaja di Tengah Transformasi Pendidikan Tinggi
Raker ISNU Aceh Tahun 2026 pada akhirnya diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan daftar program kerja, tetapi juga membangun kesamaan paradigma mengenai arah pengembangan institut.
Transformasi kelembagaan ISNU Aceh diproyeksikan mencakup penguatan tata kelola, peningkatan mutu akademik, pengembangan program studi, peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, penguatan sistem penjaminan mutu, digitalisasi layanan akademik, pengembangan kemitraan, publikasi ilmiah, serta peningkatan eksistensi ISNU Aceh di tingkat nasional dan internasional.
Di tengah tuntutan globalisasi pendidikan tinggi, nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah tetap ditempatkan sebagai fondasi etik dan epistemologis dalam pengembangan institut. Dengan demikian, orientasi global ISNU Aceh tidak dimaknai sebagai pelepasan terhadap akar tradisi, melainkan sebagai upaya membawa khazanah keislaman dan tradisi keilmuan yang hidup di Aceh ke dalam ruang akademik yang lebih luas.
Melalui Rapat Kerja Tahun 2026, ISNU Aceh menegaskan komitmennya untuk terus berbenah dan bergerak dari fase konsolidasi menuju fase transformasi yang lebih terukur.
Unggul dalam mutu, mandiri dalam tata kelola, berdaya saing dalam jejaring global, dan tetap berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah menjadi arah besar yang hendak diwujudkan bersama oleh seluruh Civitas Akademika Institut Nahdlatul Ulama Aceh.




