
Dari Serambi Makkah ke Semenanjung Malaysia: Tema Mahasiswa KPM STISNU Aceh Tahun 2026
Banda Aceh — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU Aceh) hari ini secara resmi melepas mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Malaysia. Mengusung semangat “Dari Serambi Makkah untuk Malaysia”, keberangkatan ini menjadi langkah nyata perluasan medan pengabdian sekaligus penguatan jejaring akademik lintas negara.
Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan nilai dan tanggung jawab intelektual. Mahasiswa yang dilepas merupakan duta-duta akademik yang membawa identitas keilmuan Islam, tradisi kepesantrenan, dan semangat pengabdian khas Aceh—yang selama ini dikenal sebagai Serambi Makkah. Mereka akan terlibat dalam berbagai program edukasi, pendampingan masyarakat, penguatan literasi keagamaan, serta pengabdian sosial yang berorientasi pada pemberdayaan.
Ketua STISNU Aceh, Dr. Tgk. Muhammad Yasir, MA, dalam sambutannya menegaskan bahwa KPM internasional ini adalah manifestasi visi kampus dalam membangun generasi berintegritas dan berdaya saing global.
“Mahasiswa STISNU Aceh tidak hanya kita siapkan sebagai sarjana yang memahami teks, tetapi juga sebagai insan yang mampu membaca konteks. Keberangkatan ke Malaysia ini adalah ruang belajar yang sesungguhnya—di mana ilmu diuji oleh realitas, dan idealisme diuji oleh pengabdian. Dari Serambi Makkah, kita kirimkan nilai-nilai keislaman yang ramah, moderat, dan mencerahkan untuk berkontribusi dalam mencetak generasi bangsa, di mana pun mereka berada.”
Sementara itu, Koordinator KPM Mahasiswa, Tgk. Muhammad Razi, M.C.L., menyampaikan bahwa program ini telah dipersiapkan secara matang, baik dari sisi akademik maupun teknis pelaksanaan.
“KPM ini dirancang sebagai ruang integrasi antara ilmu syariah dan praktik sosial. Mahasiswa akan berinteraksi langsung dengan masyarakat, lembaga pendidikan, serta komunitas diaspora. Harapannya, mereka tidak hanya memberi, tetapi juga belajar—memahami dinamika sosial, budaya, dan pendidikan di Malaysia sebagai bekal memperkaya perspektif keilmuan mereka.”
Pembina STISNU Aceh, Abu H. Faisal Ali, M.Pd, turut memberikan pesan mendalam kepada para mahasiswa sebelum keberangkatan. Beliau menekankan bahwa esensi pengabdian bukan sekadar menjalankan program, tetapi menghadirkan kemanfaatan yang luas.
“Jadilah insan yang bermanfaat untuk semesta. Ilmu yang kalian miliki bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk ditunaikan. Di mana pun kaki berpijak, di situ harus ada nilai yang tumbuh, akhlak yang hidup, dan keberkahan yang dirasakan. Pengabdian sejati adalah ketika kehadiran kita membawa kebaikan, bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi lingkungan dan peradaban.”
Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa STISNU Aceh adalah representasi nilai-nilai keislaman yang santun dan rahmatan lil ‘alamin, sehingga setiap langkah dan sikap harus mencerminkan integritas serta kedewasaan moral.
Program KPM internasional ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun kolaborasi lintas negara, sekaligus memperkuat posisi STISNU Aceh sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang adaptif terhadap tantangan global.
Dengan doa dan harapan, keberangkatan mahasiswa hari ini menjadi penanda bahwa pengabdian tidak mengenal batas wilayah. Dari Aceh untuk dunia—dari Serambi Makkah ke Malaysia—mahasiswa STISNU Aceh melangkah membawa ilmu, akhlak, dan semangat membangun generasi bangsa.



